<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5775718905026304498</id><updated>2011-04-21T20:07:46.961-07:00</updated><category term='Chicken Picture'/><category term='Domba Picture'/><category term='Duck Picture'/><title type='text'>Picture</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://picture-farmsolution.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5775718905026304498/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://picture-farmsolution.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>farmsolution</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00308949745007752464</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>5</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5775718905026304498.post-3656980354569777824</id><published>2008-11-27T06:27:00.000-08:00</published><updated>2008-11-27T06:32:31.313-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Duck Picture'/><title type='text'>Alabio Duck</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_aXU71lRZqFA/SS6ufBuqVbI/AAAAAAAAACs/euhBD9V7u00/s1600-h/ItikAlabio-3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_aXU71lRZqFA/SS6ufBuqVbI/AAAAAAAAACs/euhBD9V7u00/s200/ItikAlabio-3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5273344061760755122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Keunggulan Itik Alabio&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Salah satu jenis itik yang sering dibudidayakan sebagai itik petelur adalah itik alabio. Itik yang berasal dari Kabupaten Hulu Sungai Utara, Provinsi Kalimantan Selatan, itu dalam setahun mampu memproduksi telur sebanyak 230 butir. Dalam umur 6 bulan itik alabio sudah mampu memproduksi telur dengan bobot rataan telur pertama 55,0 gram. Sedang bobot rataan telur selama produksi seberat 62 gram. Puncak produksi telur yang dapat dicapai itik alabio sebesar 90% pada sekitar minggu ke-12.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Secara tradisional, itik alabio dipelihara di daerah rawa yang banyak terdapat di Kalimantan Selatan dengan sistem pemeliharaan yang disebut sistem lanting. Di daerah rawa itulah itik alabio memperoleh pakan berupa keong air sebagai sumber protein dan sagu atau dedak sebagai sumber kalori. Seiring perkembangan dunia peternakan, itik alabio sekarang sudah dikembangkan secara intensif. Tidak hanya di Hulu Sungai Utara saja, namun juga berkembang pesat di Pulau Jawa dan Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itik dari jenis mallard itu disebut alabio, karena di Hulu Sungai Utara paling banyak dijual di pasar Alabio. Sebagai plasma nutfah Indonesia, itik alabio memiliki tubuh relatif besar dibanding itik jenis lainnya. Bobot badannya untuk dewasa betina mencapai 1,6 kg – 1,8 kg dan dewasa jantan 1,8 kg – 2,0 kg. Warna bulunya coklat dengan bintik-bintik putih di seluruh badan dengan garis putih di sekitar mata. Pada jenis jantan, warna bulu cenderung gelap. Sayapnya terdapat beberapa helai bulu suri berwarna hijau kebiruan mengkilap. Warna paruh dan kaki kuning terang.&lt;b&gt;(Ardi Winangun)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5775718905026304498-3656980354569777824?l=picture-farmsolution.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://picture-farmsolution.blogspot.com/feeds/3656980354569777824/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5775718905026304498&amp;postID=3656980354569777824' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5775718905026304498/posts/default/3656980354569777824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5775718905026304498/posts/default/3656980354569777824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://picture-farmsolution.blogspot.com/2008/11/alabio-duck.html' title='Alabio Duck'/><author><name>farmsolution</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00308949745007752464</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aXU71lRZqFA/SS6ufBuqVbI/AAAAAAAAACs/euhBD9V7u00/s72-c/ItikAlabio-3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5775718905026304498.post-7427557052345991142</id><published>2008-11-27T06:24:00.000-08:00</published><updated>2008-11-27T06:27:10.738-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Domba Picture'/><title type='text'>Domba Garut</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_aXU71lRZqFA/SS6t3DfX0pI/AAAAAAAAACk/Qp82pHe1WpI/s1600-h/DombaGarut-2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 133px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_aXU71lRZqFA/SS6t3DfX0pI/AAAAAAAAACk/Qp82pHe1WpI/s200/DombaGarut-2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5273343375038730898" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Domba Garut                      telah dibudidayakan masyarakat Garut sejak lama. Domba yang                      memiliki fisik yang besar dan kuat ini, melahirkan seni atraksi                      laga domba yang di daerah Bayongbong Garut. Domba Garut merupakan                      hasil persilangan segitiga antara domba asli Indonesia, domba                      Merino dari Asia Kecil dan domba ekor gemuk dari Afrika. Domba                      ini dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Domba Garut, yang                      dikenal juga dengan sebutan domba priangan.&lt;br /&gt;Ciri-ciri fisiknya antara lain: &lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Badan agak besar. Domba jantan dewasa mempunyai bobot                        60-80 kg, sedangkan yang betina mempunyai bobot 30-40 kg.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Domba jantan memiliki tanduk yang cukup besar, melengkung                        kearah belakang, dan ujungnya mengarah kedepan sehingga                        berbentuk seperti spiral. Pangkal tanduk kanan dan kiri                        hampir bersatu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Domba betina tidak memiliki tanduk.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ekornya pendek dan pangkalnya agak besar (gemuk).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lehernya agak kuat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bentuk telinganya ada yang panjang, pendek dan sedang                        yang terletak dibelakang pangkal tanduk.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bulunya lebih panjang dan halus jika dibandingkan dengan                        domba asli, berwarna putih, hitam, cokelat, atau kombinasi                        dari ketiga warna tersebut.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Domba ini baik untuk penghasil daging.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                   Teknologi yang dibutuhkan untuk memelihara Domba Garut, baik                      usaha peternakan maupun usaha penggemukan sangat sederhana,                      meliputi penentuan lokasi, perkandangan dan perlengkapan.                      Penentuan lokasi peternakan domba perlu memperhatikan dan                      mempertimbangkan faktor lingkungan, sumber daya alam, faktor                      sosial, faktor ekonomi dan faktor hukum yang mendukung pembudidayaan                      domba itu sendiri. Kebijakan Pemda Kabupaten Garut telah menetapkan                      lokasi peternakan Domba Garut yang meliputi Kecamatan Wanaraja,                      Kecamatan Banyuresmi, Kecamatan Singajaya, Kecamatan Banjarwangi,                      Kecamatan Cikajang, Kecamatan Bungbulang, dan Kecamatan Cisewu                      sebagai sentra produksi domba pedaging. Meskipun belum ada                      data spesifik terhadap populasi domba Garut, dapat dijelaskan                      bahwa populasi ternak domba secara keseluruhan di Kabupaten                      Garut selalu tinggi dan tertinggi di antara jenis ternak besar                      lainnya setiap tahunnya. Misalnya untuk tahun 2004, populasi                      ternak domba mencapai angka 70.851 ekor.                      Angka ini meningkat dibanding tahun sebelumnya yaitu 69.472                      ekor pada tahun 2003, 68.641 ekor pada tahun 2002, 65.933 pada tahun 2001, dan 65.714 ekor pada tahun 2000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5775718905026304498-7427557052345991142?l=picture-farmsolution.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://picture-farmsolution.blogspot.com/feeds/7427557052345991142/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5775718905026304498&amp;postID=7427557052345991142' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5775718905026304498/posts/default/7427557052345991142'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5775718905026304498/posts/default/7427557052345991142'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://picture-farmsolution.blogspot.com/2008/11/domba-garut.html' title='Domba Garut'/><author><name>farmsolution</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00308949745007752464</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_aXU71lRZqFA/SS6t3DfX0pI/AAAAAAAAACk/Qp82pHe1WpI/s72-c/DombaGarut-2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5775718905026304498.post-1548129536257942358</id><published>2008-11-27T06:21:00.000-08:00</published><updated>2008-11-27T06:23:51.916-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Chicken Picture'/><title type='text'>Ayam Cemani</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_aXU71lRZqFA/SS6tH685SVI/AAAAAAAAACc/4zpPn_JR6TU/s1600-h/AyamCemani-1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 152px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_aXU71lRZqFA/SS6tH685SVI/AAAAAAAAACc/4zpPn_JR6TU/s200/AyamCemani-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5273342565292788050" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Warna hitam bagi banyak orang berkesan magis dan memiliki kekuatan              supra natural. Centeng Belanda atau Si Jampang, kurang berwibawa              bila tak berpakaian hitam-hitam. Begitu pula makhluk yang memiliki              warna hitam itu pun dianggap memiliki tuah atau kutukan. Ingat              dengan kisah-kisah kucing hitam atau burung gagak? Bagaimana dengan              ayam cemani yang memiliki bulu, jenger, tulang, daging, kulit, kaki              dan taji serbahitam? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Ini yang menarik. Ayam cemani bukan cuma dianggap ayam keramat,              namun juga ayam hias yang khas Indonesia. Memang hewan ini konon              punya kemampuan menolak bala. Bagi yang mempercayainya jika memakan              dagingnya bisa menyembuhkan penyakit tertentu. Kepercayaan akan              hal-hal gaib itu kini masih ada di sebagian masyarakat, namun kian              menipis. Kini dia lebih sebagai ayam hias yang eksotik dan diburu              para hobbies lokal dan mancanegara untuk dikoleksi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;             Cemani adalah kata Sanskerta untuk hitam. Jenis ayam ini awalnya              disebut ayam kedu. Dalam perkembangan ayam kedu itu terjadi banyak              varian yang tidak lagi memiliki warna murni hitam. Sehingga ayam              kedu yang masih tetap mempertahankan kehitam legamnya disebut oleh              para hobbies sebagai ayam cemani.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Asal Usul&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;             Dari mana ia berasal? Ada beberapa dugaan, namun yang pasti dia              berasal dari Kedu, Jawa Tegah. Makanya satwa ini dikenal juga              sebagai ayam kedu. Satwa ini mulai naik daun ketika pertama kali              tampil dalam pekan raya di Semarang tahun 1926. Pemiliknya              Tjokromihardjo, lurah Desa Kalikuto, Grabak, di Magelang. Saat itu              wilayah itu masih masuk dalam Karesidenan Kedu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;             Menurut data, ayam kepala desa itu pernah tampil di Surabaya tahun              1924 dalam sebuah pekan raya. Saat itu ayam itu dikenal sebagai ayam              yang berwarna hitam saja. Tapi kemudian panitia lomba satwa di              Semarang menjuluki ayam hitam legam milik Tjokromihardjo sebagai              ayam kalikuto, karena berasal dari daerah itu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;             Lucunya, pemilik menolak nama itu. Lalu diusulkan sendiri agar              dinamakan ayam kedu saja sebab memang berasal dari karesidenan              tersebut. Usul tersebut diterima panitia maka resmilah ayam yang              berasal dari Kalikuto berjuluk ayam kedu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;             &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;             Genetika&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;             Ayam kedu yang ikut dalam kontes tersebut, menurut sebuah telaah,              berasal dari keturunan ayam kampung yang dibeli dari daerah Gunung              Sumbing. Ayam ini cukup besar dan diduga hasil silangan liar antara              ayam Inggris yang diboyong orang pada era Raffles berkuasa              (1811-1816). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;             Kala itu, konon ada orang Inggris yang membawa dua ekor ayam betina              dan seekor jantan asing, yang diduga termasuk jenis ayam ternak              Dorking. Mereka dipelihara di daerah Dieng. Mungkin karena              kandangnya sederhana dan kurang pengawasan, ayam-ayam itu              menyeleweng dan berbaur dengan ayam kampung setempat. Dari              keturunannya lebih lanjut terciptalah ayam lokal unggul. Oleh              masyarakat setempat ayam ini yang disebut sebagai ayam kedu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;             Sementara telaah lain menyebutkan ayam hitam milik Tjokromihardjo              bukanlah asli ayam kedu. Sebab ia merupakan hasil kawin silang              antara ayam kampung hasil belian dengan ayam australorp, yang              penyilangannya dilakukan sendiri oleh pemiliknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;             &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;             Legenda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;             Tapi ada legenda yang juga sampai saat ini masih hidup di sana yakni              tentang asal-muasalnya ayam kedu. Konon, kehadiran satwa ini tak              disengaja. Menurut legenda sebelum lahirnya kota Temanggung, hidup              seorang pertapa yang sakti mandraguna yakni Ki Ageng Makukuhan, yang              hobi mengoleksi ayam serba hitam, dan hanya paruhnya yang berwarna              putih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;             Suatu hari, ketika sedang bertapa di sebuah kuburan keramat di              wilayah Kedu, dia memperoleh wangsit untuk mengobati penyakit putra              Panembahan Hargo Pikukuh yang bernama Lintang Katon, yakni diobati              dengan ayam itu. Bagaimana proses selanjutnya tidak terlalu jelas,              namun akhirnya penyakit yang diderita anak semata wayang itu sembuh.              Oleh karena tuah yang dimiliki ayam itu akhirnya dijadikan lambang              kesembuhan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;             Maka tak heran bila tradisi itu kini masih hidup dan dipercaya. Ayam              ini memang sering digunakan untuk hal-hal yang bersifat magis.              Misalnya untuk upacara ruwatan, pembangunan pabrik, jembatan atau              gedung-gedung bertingkat agar terhindar dari bencana. Tapi              penggunaannya juga untuk syarat penyembuhan orang sakit. ”Misalnya              untuk penyakit akibat santet,” Raharjo (31), pedagang ayam kedu di              Pasar Pramuka, Jakarta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;             &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;             Hampir Punah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;             Binatang ini di tempat asalnya kini yakni di Desa Kedu, Kecamatan              Kedu, Kabupaten Temanggung, tersebar di tiga pedukuhan yakni              Kahuripan, Sentono dan Beji. Menurut data, populasi ketika awal              tahun 1984 tercatat sekitar 5.000 ekor, namun di akhir tahun              meningkat menjadi 8.500 ekor. Jumlah ini pada tahun 1997 melorot              drastis tinggal 2.000 ekor. Ini dikarenakan masyarakat setempat              kurang dibekali pengetahuan sehingga ketika wabah datang, mereka              tidak tahu bagaimana menangkalnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;             Pemerintah daerah setempat akhirnya mengambil inisiatif untuk              mengatasi persoalan ini. Program pelestarian dicanangkan lewat              pemerintah desa dengan mendirikan kelompok peternak bernama              ”Makukuhan,” yang diambil dari nama pertapa sakti itu. Kelompok ini              awalnya berjumlah 35 orang. Mereka memelihara ayam sekitar 1.500              ekor. Hingga sekarang peternak di sana bisa hidup layak dari              ayam-ayam hitam itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;             &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;             Kolektor&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;             Menurut Raharjo, permintaan akan ayam ini lumayan besar. Umumnya              untuk keperluan upacara, namun tak sedikit pula yang membeli untuk              dijadikan koleksi. Bagi kolektor atau hobbies, ayam ini berkesan              angker dan gagah dengan bulu-bulunya yang serba hitam pekat.              ”Apalagi kalau pagi-pagi berkokok, suasananya lantang,” ujar Ibnu              Saptaji (34) hobbies pemula yang bermukim di Pondok Gede, Bekasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;             Menurut Ibnu, dia tidak mempercayai soal kegaiban di seputar ayam              ini. Dia lebih melihatnya sebagai sarana penghilang stres. Kalau              pagi sebelum berangkat ke kantor, dengan membersihkan kandang,              memberikan makan, dan mendengarkan kukuruyuknya seraya memandanginya              maka hati bapak tiga anak itu merasa damai. Sehingga, menurutnya,              tiap hari diusahakan untuk melongok ke kandang ayam itu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;             Begitu juga Jan Steverink, warga Belanda yang telah tiga kali datang              ke Indonesia, hanya khusus berburu ayam ini untuk dipelihara di              negaranya. Kedatangannya yang terakhir adalah tahun 2000. Dia              bercita-cita ingin melestarikan dan memperkenalkan ayam khas              Indonesia di Eropa. Tujuan lain sebetulnya ia ingin meneliti sampai              sejauh mana penyimpangan warna terjadi. Sebab dari anak-anak ayam              menetas jika mencapai usia tertentu, yang betul-betul hitam pekat              hanya 50 persen. Maka dengan kegiatannya yang tampak sepele itu, Jan              ingin membuat jalur murni ayam cemani. Sehingga pada akhirnya jika              sesama ayam ini dikawinkan setelah beberapa generasi maka akan              menjadi ayam cemani hitam pekat tanpa ada lagi variasi warna yang              keluar. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;             Memelihara ayam ini di Kedu, tambah Raharjo yang berasal dari              Magelang, seperti memelihara ayam biasa yakni masih tradisional.              Ayam diumbar dari pagi sampai sore untuk mencari makanan sendiri,              namun pemilik suka memberi dedak sebagai makanan tambahan. ”Jadi              ayam ini cukup tahan penyakit, dan gempal,” ujarnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;             &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;             Warna Berubah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;             Bulu-bulu hias yang jantan, bakal keluar ketika ayam berusia 4              bulan. Sampai pada umur 5 bulan warnanya masih hitam, namun lambat              laun bermunculan warna lain. Bisa kuning, merah, merah coklat, atau              kuning coklat. Saat umur 1,5 tahun bulu hiasnya berubah menjadi              merah merona.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;             Di antara ayam kedu hitam ini, salah satu varietas dikenal sebagai              ayam cemani. Inilah yang dianggap primadona ayam kedu karena              segalanya serba hitam. Baik bulu, kulit, daging sampai              ketulang-tulangnya hitam pekat. Ayam cemani harganya relatif mahal              karena langka dan dicari orang. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;             Harga ayam cemani yang hitam pekat, menurut Raharjo, bisa mencapai              jutaan, namun yang biasa-biasa saja paling mahal Rp 750 ribu              seekornya. Sedang yang remaja Rp 100 ribu per ekor. Pelanggan              kolektor pemula lebih suka membeli yang remaja. Karena ketika              dewasa, ayam berperilaku jinak. Sedang yang kolektor serius lebih              suka mencari yang dewasa sebab sudah bisa diketahui kualitasnya,              apakah berbulu hitam pekat atau ada variasi warna lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;             ”Saya punya langganan paranormal, yang sering memesan ayam cemani              untuk keperluan upacara,” lagi tutur Raharjo. Dia tidak tahu ayam              itu akan diapakan oleh langganannya, yang dia tahu untuk mengobati              penyakit. Dan bagaimana cara pengobatan dengan ayam cemani, dia              tidak tahu pasti. Tapi kalau pun dimasak opor, ayam ini enak seperti              rasa daging ayam lainnya. Anehnya, tambahnya, kuah opor menjadi              berwarna hitam juga seperti memasak ikan cumi yang kuahnya berubah              hitam. Nah lho! &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;             (SH/gatot irawan) http://www.sinarharapan.co.id/feature/hobi/2002/03/3/hob01.html&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;             &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5775718905026304498-1548129536257942358?l=picture-farmsolution.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://picture-farmsolution.blogspot.com/feeds/1548129536257942358/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5775718905026304498&amp;postID=1548129536257942358' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5775718905026304498/posts/default/1548129536257942358'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5775718905026304498/posts/default/1548129536257942358'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://picture-farmsolution.blogspot.com/2008/11/ayam-cemani.html' title='Ayam Cemani'/><author><name>farmsolution</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00308949745007752464</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_aXU71lRZqFA/SS6tH685SVI/AAAAAAAAACc/4zpPn_JR6TU/s72-c/AyamCemani-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5775718905026304498.post-4719069186901217989</id><published>2008-11-27T06:17:00.000-08:00</published><updated>2008-11-27T06:21:03.714-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Chicken Picture'/><title type='text'>Ayam Arab</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_aXU71lRZqFA/SS6sEsfyogI/AAAAAAAAACU/ffXViAKG2qg/s1600-h/AyamArab-3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 164px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_aXU71lRZqFA/SS6sEsfyogI/AAAAAAAAACU/ffXViAKG2qg/s200/AyamArab-3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5273341410361385474" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="content"&gt;Kebanyakan masyarakat memanfaatkan Ayam Arab karena produksi telurnya tinggi, mencapai 190-250 butir per tahun dengan berat telur 42,3 gram. Kuning telur lebih besar volumenya, mencapai 53,2% dari total berat telur. Warna kerabang sangat bervariasi yakni putih, kekuningan dan coklat. Warna kulit yang kehitaman dengan daging yang lebih tipis dibanding ayam kampung menjadikannya jarang dimanfaatkan sebagai pedaging.     &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="content"&gt;Ayam Arab mudah dikenali dari bulunya. Pada sepanjang leher berwarna putih mengkilap, bulu punggung putih berbintik hitam, bulu sayap hitam bergaris putih dan bulu ekor dominan hitam bercampur putih. Sedang jenggernya berbentuk kecil berwarna merah muda dan mata hitam dengan dilingkari warna kuning. Ciri lain Ayam Arab adalah pejantannya pada umur 1 minggu sudah tumbuh jengger, dan betina induk tidak memiliki sifat mengeram. Dari penampilan tubuhnya, tinggi Ayam Arab dewasa mencapai 35 cm dengan bobot 1,5-2 kg. Kepalanya mempunyai jengger berbentuk tunggal dan bergerigi. Ayam ini berbulu tebal. Bulu di sekitar leher berwarna kuning dan putih kehitaman. Warna bulu badannya putih bertotol-totol hitam. Kokok suara jantan nyaring. Ayam Arab betina dewasa tingginya mencapai 25 cm dengan bobot 1,0-1,5 kg. Kepalanya berjengger tipis, bergerigi. Badannya berbulu tebal. Selama usia produktif antara 0,8 1,5 tahun, betina arab terus-menerus bertelur, sehingga hampir setiap hari menghasilkan telur.     &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="content"&gt;Secara genetis Ayam Arab tergolong galur ayam buras yang unggul, karena memiliki kemampuan produksi telur yang tinggi. Kebanyakan masyarakat memanfaatkan Ayam Arab untuk menghasilkan telur bukan daging karena Ayam Arab memiliki warna kulit yang kehitaman dan daging tipis dibanding ayam buras biasa sehingga dagingnya kurang disukai masyarakat.      &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="content"&gt;&lt;strong&gt;Keunggulan Ayam Arab antara lain:   &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="content"&gt;- Harga DOC tinggi dibandingkan ayam kampung biasa   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="content"&gt;- Berat telur 30-35 gram.   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="content"&gt;- Warna kerabang telur putih   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="content"&gt;- Harga induk tinggi   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="content"&gt;- Ayam Arab termasuk tipe ayam kecil sehingga konsumsi pakan relatif lebih sedikit sehingga lebih efisien   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="content"&gt;- Libido seksualitas jantan lebih tinggi, mudah dikawinkan dengan ayamayam lain, dalam 15 menit bisa tiga kali kawin   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="content"&gt;- Bisa dijadikan untuk perbaikan genetik ayam buras Sifat mengeram hampir tidak ada, sehingga waktu bertelur panjiang.     &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="content"&gt;&lt;strong&gt;Kelemahan Ayam Arab antara lain:   &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="content"&gt;- Wama kulit dan daging hitam sehingga harga jual afkirnya bisa menimbulkan masalah   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="content"&gt;- Sifat mengeram hampir tidak ada, sehingga apabila dikembangkan di masyarakat harus ditetaskan di mesin tetas atau menggunakan ayam lain   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="content"&gt;- Harus dipelihara secara intensif untuk mendapatkan produksi tinggi sesuai dengan kemampuan genetisnya   - Bobot badan afkir rendah mencapai 1,1-1,2 kg   &lt;/span&gt; (Poultryindonesia.com)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5775718905026304498-4719069186901217989?l=picture-farmsolution.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://picture-farmsolution.blogspot.com/feeds/4719069186901217989/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5775718905026304498&amp;postID=4719069186901217989' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5775718905026304498/posts/default/4719069186901217989'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5775718905026304498/posts/default/4719069186901217989'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://picture-farmsolution.blogspot.com/2008/11/ayam-arab.html' title='Ayam Arab'/><author><name>farmsolution</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00308949745007752464</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_aXU71lRZqFA/SS6sEsfyogI/AAAAAAAAACU/ffXViAKG2qg/s72-c/AyamArab-3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5775718905026304498.post-4558695900558285286</id><published>2008-11-27T06:10:00.000-08:00</published><updated>2008-11-27T06:14:55.016-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Chicken Picture'/><title type='text'>Bekisar Chick (Ayam Bekisar)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_aXU71lRZqFA/SS6rSUIaMOI/AAAAAAAAACE/G7SRdVScVeI/s1600-h/AyamBekisar-1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 173px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_aXU71lRZqFA/SS6rSUIaMOI/AAAAAAAAACE/G7SRdVScVeI/s200/AyamBekisar-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5273340544827404514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ayam Bekisar adalah hasil perkawinan antara ayam hutan jantan (gallus varius) dan ayam kampung betina/ayam buras (gallus domesticus). Ada tiga jenis ayam bekisar, yaitu : Gallus aenus yang berjengger bergerigi 8 kecil, pial berukuran sedang, warna bulu pada lapisan atas ungu dengan plisir kuning emas.Gallus temminckii memiliki jengger bergerigi enam, pial berwarna jambu, bulu merah mengkilap dan berplisir merah kecoklatan.Gallus violaceus dengan jengger bergerigi bagus, ukuran pial sedang, warna bulunya ungu dengan permukaan yang halus. Ayam bekisar memiliki ukuran lebih kecil dibandingkan ukuran ayam kampung jantan, tetapi lebih besar daripada induk jantannya. Warna bulunya hitam kehijauan dan mengkilap. Memiliki suara yang halus dan cukup indah di dengar. Ayam Bekisar merupakan fauna maskot provinsi Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Ciri-ciri khusus dari ayam bekisar yang paling menonjol adalah bentuk bulu leher yang ujungnya bulat/lonjong bukan lancip. Jika dibandingkan dengan ayam jago biasa maka akan terlihat jelas, hal ini dikhawtirkan hobiis pemula salah dalam memilih bekisar yang akan dibeli. Bentuk ayam yang mirip sekali dengan bekisar adalah hasil silangan ayam bekisar dengan ayam kampung yang dinamakan bekikuk. Bentuk dan posturnya sama, hanya terkadang pial dan bulu lehernya yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5775718905026304498-4558695900558285286?l=picture-farmsolution.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://picture-farmsolution.blogspot.com/feeds/4558695900558285286/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5775718905026304498&amp;postID=4558695900558285286' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5775718905026304498/posts/default/4558695900558285286'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5775718905026304498/posts/default/4558695900558285286'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://picture-farmsolution.blogspot.com/2008/11/bekisar-chick-ayam-bekisar.html' title='Bekisar Chick (Ayam Bekisar)'/><author><name>farmsolution</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00308949745007752464</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_aXU71lRZqFA/SS6rSUIaMOI/AAAAAAAAACE/G7SRdVScVeI/s72-c/AyamBekisar-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
